Tito Karnavian Minta Pemda Perketat Evaluasi Bangunan Bertingkat

Tito Karnavian Minta Pemda Perketat Evaluasi Bangunan Bertingkat

BahasBerita.com – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini menegaskan pentingnya pemerintah daerah (pemda) untuk memperketat evaluasi kelayakan bangunan bertingkat di seluruh Indonesia. Instruksi ini dikeluarkan sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran terkait risiko keselamatan dan bencana yang berpotensi terjadi akibat pengawasan yang belum optimal terhadap konstruksi gedung tinggi. Langkah ini menunjukkan perhatian serius pemerintah pusat dalam menjaga keamanan publik, terutama mengingat semakin banyaknya bangunan bertingkat yang berdiri di kawasan urban dengan potensi risiko bencana yang semakin kompleks.

Kebijakan ini muncul pasca sejumlah insiden bangunan bertingkat yang gagal memenuhi standar keselamatan konstruksi sehingga menimbulkan ancaman nyata bagi penghuni dan masyarakat sekitar. Pemerintah daerah, sebagai garda terdepan, memiliki peran strategis dalam melakukan pemeriksaan dan penilaian kelayakan bangunan sebelum dan selama tahap operasional. Kementerian Dalam Negeri bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat koordinasi untuk memastikan standar dan regulasi bangunan bertingkat diimplementasikan secara ketat, mencakup aspek mitigasi risiko kebakaran, gempa bumi, serta keselamatan struktural.

Tito Karnavian dalam pernyataannya menyampaikan bahwa evaluasi kelayakan bangunan bertingkat harus dilakukan secara sistematis dan rutin oleh pemda sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat. “Pengawasan yang ketat dan evaluasi komprehensif diperlukan agar seluruh bangunan bertingkat memenuhi standar keselamatan yang berlaku. Ini bukan hanya soal regulasi, tetapi tentang nyawa manusia dan keamanan publik,” ujarnya. Kebijakan ini juga bertujuan mencegah kerugian materi dan korban jiwa akibat bangunan yang tidak layak pakai yang dapat mengalami kerusakan atau runtuh saat terjadi bencana.

Implementasi evaluasi kelayakan ini menuntut pemda untuk meningkatkan kapasitas pengawasan dan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan dinas terkait dan pengembang properti. Namun, sejumlah tantangan di lapangan masih dihadapi, antara lain keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keahlian teknis dalam inspeksi bangunan bertingkat, kurangnya integrasi data antara instansi, serta risiko rendahnya tingkat kepatuhan dari pengembang yang terkadang mengabaikan regulasi demi efisiensi biaya. BPBD setempat juga didorong aktif dalam proses evaluasi untuk memastikan aspek mitigasi bencana terintegrasi dalam tata kelola bangunan.

Baca Juga:  Kronologi Santri Lumajang Ambruk Setelah Minum Asam Klorida

Tindakan pemerintah daerah yang memperketat evaluasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan standar konstruksi yang lebih tinggi dan konsisten, sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat pengguna bangunan. Industri properti pun diharapkan menyesuaikan diri dengan regulasi yang lebih ketat, yang walaupun menimbulkan tantangan biaya awal, memberikan keuntungan jangka panjang berupa reputasi dan keamanan investasi. Kementerian Dalam Negeri bahkan sedang mengkaji kemungkinan revisi regulasi bangunan bertingkat untuk memberikan ruang pengawasan yang lebih optimal dan transparan.

Berikut tabel perbandingan utama antara kondisi pengawasan bangunan bertingkat sebelum dan sesudah kebijakan penguatan evaluasi oleh Mendagri Tito Karnavian, yang menjadi tolok ukur keberhasilan implementasi:

Aspek
Sebelum Penguatan Evaluasi
Setelah Penguatan Evaluasi
Frekuensi Inspeksi
Inspeksi sporadis dan tidak rutin
Evaluasi terjadwal secara berkala dan sistematis
Keterlibatan Pemda
Terbatas dan kurang koordinasi
Pengawasan aktif dan lintas instansi
Tingkat Kepatuhan Pengembang
Variatif, kadang mengabaikan standar
Peningkatan kepatuhan karena pengawasan ketat
Pengelolaan Risiko Bencana
Belum terintegrasi penuh
Integrasi aspek mitigasi bencana dalam evaluasi
Peran BPBD
Kurang optimal dalam evaluasi teknis
Aktif berperan dalam pengawasan dan mitigasi

Evaluasi ketat kelayakan bangunan bertingkat juga menimbulkan efek positif jangka menengah dan panjang, seperti pengurangan potensi kerusakan akibat gempa bumi dan kebakaran, serta terbangunnya kepercayaan publik terhadap keamanan infrastruktur perkotaan. Selain itu, hal ini menjadi pemicu penguatan tata kelola bangunan di tingkat nasional yang lebih komprehensif, melibatkan pembaruan standar teknis dan peraturan terkait konstruksi gedung tinggi. Pengembang properti yang patuh akan mendapatkan nilai tambah dalam persaingan pasar, sementara pemda melalui peningkatan kinerja pengawasan akan memperkuat kredibilitas tata kelola regional.

Ke depan, Kementerian Dalam Negeri berencana meluncurkan mekanisme pelaporan dan monitoring berbasis teknologi digital untuk mendukung pengawasan bangunan bertingkat secara real-time. Model kolaborasi dengan BPBD dan instansi terkait diharapkan dapat menjadi formula efektif dalam menekan risiko bencana dan memastikan seluruh gedung bertingkat di Indonesia memenuhi standar kelayakan secara menyeluruh. Kebijakan ini menunjukkan kesungguhan pemerintah menjaga keselamatan warga negara sebagai langkah strategis dalam pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan tahan bencana.

Baca Juga:  Kontroversi Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Banjir 2025

Masyarakat pengguna gedung bertingkat juga diimbau untuk aktif melaporkan potensi kerusakan atau kejanggalan kondisi bangunan kepada pemda dan BPBD untuk penanganan dini. Sementara itu, pengembang diharapkan meningkatkan transparansi dan komitmen pada standar keselamatan sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. Dengan demikian, sinergi antara pemerintah daerah, kementerian terkait, pengembang, hingga masyarakat akan terwujud demi menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman dari risiko bencana konstruksi bangunan bertingkat.

Tentang Dwi Santoso Adji

Dwi Santoso Adji adalah financial writer dengan pengalaman lebih dari 8 tahun khusus dalam bidang investasi. Lulus dari Universitas Indonesia dengan gelar Sarjana Ekonomi, Dwi memulai karirnya sebagai analis pasar modal sebelum beralih ke dunia penulisan finansial pada tahun 2016. Selama karirnya, Dwi telah menulis berbagai artikel dan riset mendalam yang dipublikasikan di media nasional dan platform investasi digital ternama. Kepakarannya mencakup analisa saham, reksa dana, dan strategi investa

Periksa Juga

Bayi 9 Bulan Probolinggo Terlantar di RS Malaysia, Ini Kronologinya

Bayi perempuan 9 bulan asal Probolinggo dirawat intensif di RS Johor Malaysia. Pemerintah dan KJRI bantu pulangkan, pastikan perlindungan dan pendampi