Risiko Longsor di Mamasa Sulbar: Rumah Warga Terancam Ambruk

Risiko Longsor di Mamasa Sulbar: Rumah Warga Terancam Ambruk

BahasBerita.com – Rumah warga di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat saat ini menghadapi ancaman ambruk akibat tanah longsor yang dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar mengonfirmasi bahwa beberapa titik di wilayah tersebut menunjukkan peningkatan risiko longsor signifikan, sehingga langkah mitigasi dan evakuasi tengah diupayakan untuk melindungi warga terdampak. Warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan resmi demi keselamatan bersama.

Situasi genting ini terjadi di sejumlah desa di Kabupaten Mamasa, di mana lebih dari sepuluh rumah warga sudah terindikasi rawan ambruk karena pergeseran tanah yang diperparah oleh hujan lebat berkepanjangan. Kepala BPBD Sulbar, Irwan Mambaya, menjelaskan bahwa karakteristik tanah di Mamasa yang berbukit dengan tanah lempung mudah jenuh air menjadi penyebab utama potensi longsor meningkat drastis. “Tekanan air yang terus meningkat akibat curah hujan ekstrim menyebabkan tanah di beberapa titik mulai bergerak. Kami telah melakukan pemantauan intensif sejak minggu-minggu terakhir dan sudah mulai mengimbau warga untuk waspada,” ungkap Irwan.

Warga desa Tappalang yang rumahnya masuk zona merah longsor mengaku ketakutan dan mulai menyiapkan diri untuk kemungkinan evakuasi. Sari, salah satu warga terdampak, menceritakan pengalamannya, “Sudah ada retakan di tembok dan lantai rumah. Kami takut kalau tanahnya ambruk dan rumah ikut roboh. BPBD sudah datang memberi peringatan serta membantu kami menyiapkan tempat pengungsian sementara.” Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Camat Mamasa, Dani Lukman, yang menegaskan kesiapan dinas terkait bersama BPBD dalam mengatur jalur evakuasi dan memastikan bantuan cepat tiba bagi warga yang membutuhkan.

Ancaman longsor di Kabupaten Mamasa bukan fenomena baru, namun intensitas kejadian tahun ini mengalami peningkatan drastis. Berdasarkan data klimatologi, wilayah Sulawesi Barat mengalami perubahan pola curah hujan yang semakin ekstrem dengan durasi hujan lebih lama dan intensitas tinggi, meningkatkan risiko bencana tanah longsor. Secara geografis, Mamasa merupakan daerah berbukit dengan tanah yang mudah bergerak saat terserap air, sehingga tata ruang dan penggunaan lahan menjadi faktor yang harus diperhatikan. Ahli mitigasi bencana dari Universitas Hasanuddin, Dr. Reza Mulyadi, menjelaskan, “Ketidaksesuaian antara penggunaan lahan dan kerentanan geologi berkontribusi tinggi pada risiko longsor. Mitigasi berbasis komunitas dan pengaturan tata ruang yang ketat sangat penting untuk mengurangi dampak bencana seperti ini.”

Baca Juga:  Pramono Respons Tolak Fasilitas RDF Rorotan: Dampak & Solusi

Dalam upaya penanganan, BPBD Sulbar telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait untuk menjalankan operasi mitigasi. Ini meliputi pemantauan titik-titik rawan, pemasangan peringatan dini, serta penyediaan jalur evakuasi yang aman bagi warga. Selain itu, sosialisasi kesiapsiagaan bencana juga diperkuat agar masyarakat dapat mengenali tanda awal longsor dan cepat bertindak. Kepala bidang Kedaruratan BPBD Sulbar, Andrianto, menegaskan, “Kami terus mengintensifkan komunikasi dengan warga di lokasi-lokasi rawan dan menyiapkan skema evakuasi cepat. Keselamatan warga adalah prioritas utama kami.”

Potensi longsor di Mamasa menimbulkan risiko kerugian materi yang signifikan, terutama terkait rumah tinggal yang terancam ambruk serta infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan. Lebih jauh, keselamatan jiwa menjadi sorotan utama mengingat pergeseran tanah bisa terjadi secara mendadak, membuat evakuasi cepat dan koordinasi antar instansi menjadi sangat krusial. Selain pemerintah, peran serta masyarakat sangat vital dalam mitigasi ini melalui pengawasan mandiri terhadap kondisi lingkungan sekitar rumah dan melaporkan tanda-tanda pergerakan tanah sejak dini.

Berikut tabel ringkasan kondisi ancaman longsor dan langkah mitigasi yang tengah dijalankan di Kabupaten Mamasa:

Aspek
Detail
Langkah Mitigasi
Wilayah Terdampak
Kabupaten Mamasa (Desa Tappalang, Paranda, dll.)
Pengawasan intensif dan pemasangan rambu peringatan
Jumlah Rumah Terancam
Lebih dari 10 rumah
Persiapan jalur evakuasi dan tempat pengungsian
Penyebab
Cuaca ekstrem, tanah lempung jenuh air
Sosialisasi mitigasi dan pemantauan kondisi tanah
Stakeholder
BPBD Sulbar, Pemerintah Daerah, warga lokal
Koordinasi respons darurat dan pelaksanaan evakuasi

Kondisi ini menggarisbawahi kebutuhan pengawasan ketat terhadap daerah rawan bencana di Sulawesi Barat, khususnya wilayah Pegunungan Mamasa yang sering menghadapi ancaman tanah longsor. Warga dan pemerintah setempat dianjurkan terus waspada, menghindari aktivitas di zona merah, dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari BPBD Sulbar untuk mencegah korban jiwa dan kerusakan material yang lebih parah.

Baca Juga:  Guru Honorer Cilegon Terancam Dirumahkan 2026, Ini Dampaknya

Ke depan, langkah perbaikan tata ruang dan penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat menjadi agenda penting untuk mengurangi risiko tanah longsor. Pemerintah daerah diharapkan mempercepat implementasi kebijakan pengelolaan lahan yang berkelanjutan dan memperbaiki sistem peringatan dini. Sementara itu, masyarakat dihimbau proaktif dalam mengenali tanda-tanda awal bencana dan segera melaporkan kepada petugas terkait.

Dengan ancaman longsor yang belum sepenuhnya berlalu, pemantauan dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas bersama. Informasi resmi dari BPBD Sulbar dan pemerintah daerah dapat terus diikuti melalui media lokal dan kanal komunikasi resmi demi meningkatkan keamanan dan mitigasi bencana di Kabupaten Mamasa.
Waspada dan tanggap terhadap ancaman bencana merupakan langkah utama untuk melindungi hak hidup dan harta benda warga dari risiko tanah longsor yang terus mengintai.

Tentang Raden Arya Pratama

Raden Arya Pratama adalah Financial Writer dengan fokus utama pada dinamika politik dan dampaknya terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Indonesia pada 2010 dan melanjutkan studi Magister Ekonomi Politik di Universitas Gadjah Mada hingga 2013. Dengan pengalaman lebih dari 11 tahun menulis dan menganalisis hubungan antara politik dan keuangan, Raden telah bekerja di sejumlah media nasional terkemuka serta lembaga riset ekonomi. Karyanya sering

Periksa Juga

Bayi 9 Bulan Probolinggo Terlantar di RS Malaysia, Ini Kronologinya

Bayi perempuan 9 bulan asal Probolinggo dirawat intensif di RS Johor Malaysia. Pemerintah dan KJRI bantu pulangkan, pastikan perlindungan dan pendampi