Pramono Curiga dan Kontroversi Video Harimau Kurus Ragunan

Pramono Curiga dan Kontroversi Video Harimau Kurus Ragunan

BahasBerita.com – Pramono Curiga, yang dikenal luas setelah menyebarkan video viral berjudul “Harimau Kurus,” baru-baru ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap upaya renovasi Kebun Binatang Ragunan yang sedang berlangsung. Sementara Ragunan Zoo tengah menjalani pembaruan fasilitas dengan target rampung tahun ini, fokus Pramono tampak masih tertuju pada isu kontroversial video lama yang menggambarkan kondisi satwa langka dalam keadaan kurang terawat. Sikap ini menuai beragam reaksi publik, terutama mengenai pandangan bernuansa skeptis terhadap perbaikan dan konservasi satwa di Ragunan yang menjadi kebanggaan ibukota.

Video viral “Harimau Kurus” yang diunggah oleh Pramono Curiga sempat mendapat perhatian besar masyarakat karena menyoroti keadaan seekor harimau yang terlihat sangat kurus dan lemah di dalam kandang Kebun Binatang Ragunan. Kejadian ini memicu kegaduhan di media sosial, menimbulkan kritik tajam terhadap pengelolaan kebun binatang tersebut, serta memicu perdebatan mengenai perlindungan dan kesejahteraan satwa langka. Video tersebut memperlihatkan kondisi yang langsung dikaitkan dengan kurang optimalnya perawatan satwa dan fasilitas yang dianggap belum memenuhi standar konservasi modern.

Kebun Binatang Ragunan, sebagai salah satu destinasi wisata edukasi dan konservasi terbesar di Jakarta, merespons kritik ini dengan melaksanakan serangkaian renovasi besar-besaran. Menurut pernyataan resmi dari pengelola Ragunan Zoo, renovasi tersebut mencakup perbaikan kandang hewan, peningkatan sistem ventilasi, pengelolaan lingkungan yang ramah satwa, serta peningkatan fasilitas pengunjung demi kenyamanan sekaligus edukasi konservasi. Direktur Ragunan Zoo menyatakan, “Kami berkomitmen penuh untuk memastikan kesejahteraan setiap satwa dan memperbaiki fasilitas agar Ragunan menjadi kebun binatang yang lebih baik dan layak dikunjungi oleh masyarakat luas.”

Namun, sikap Pramono Curiga masih terus mempertahankan kritikan tajam terkait video viral harimau kurus, tanpa memberikan dukungan terhadap perkembangan positif renovasi Ragunan. Dalam beberapa wawancara dan unggahan media sosialnya, Pramono mengaku belum melihat bukti signifikan bahwa kondisi hewan di Ragunan benar-benar membaik. Ia menegaskan fokusnya tetap pada isu prioritas kesejahteraan satwa yang menurutnya masih belum diatasi secara tuntas. Hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan pengamat konservasi dan masyarakat, yang mempertanyakan apakah kritik terus-menerus tanpa apresiasi terhadap upaya perbaikan akan konstruktif atau justru merugikan citra kebun binatang tersebut.

Baca Juga:  Banjir dan Longsor di Sumatera: 1.053 Tewas, 200 Hilang

Situasi ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang bagaimana publik dan aktivis konservasi menanggapi isu viral yang telah berlangsung, sekaligus perkembangan yang sedang dilakukan. Pengelola Ragunan Zoo mengakui bahwa kepercayaan publik memang masih perlu dibangun kembali, terutama setelah video viral yang merusak citra mereka. Mereka juga menyampaikan harapan agar dialog antara pengelola, aktivis, dan masyarakat lebih terbuka demi mencari solusi berkelanjutan bagi kesejahteraan satwa dan pengembangan kebun binatang.

Dampak dari sikap Pramono bukan hanya mempengaruhi opini publik tetapi juga memicu pengelola untuk lebih transparan dan agresif dalam melaporkan progres renovasi secara berkala. Pengelola Ragunan berjanji akan meningkatkan komunikasi dengan media dan komunitas konservasi, serta membuka akses informasi mengenai kondisi satwa dan fasilitas. Ahli konservasi dari Universitas Indonesia, Dr. Sri Wulandari, mengingatkan, “Kritik memang penting sebagai kontrol sosial, namun harus diimbangi dengan dukungan dan evaluasi yang konstruktif agar konservasi berjalan efektif dan tidak stagnan dalam kontroversi.”

Tindak lanjut dari perbaikan ini meliputi monitoring berkala terhadap kesehatan satwa, pelatihan petugas konservasi, serta penggunaan teknologi baru untuk manajemen kebun binatang. Pengunjung juga mulai menunjukkan minat yang meningkat terhadap upaya pelestarian satwa dan fasilitas yang telah diperbaiki. Namun, momentum ini harus dipertahankan dengan konsistensi dan integritas demi mengembalikan kepercayaan masyarakat luas terhadap Kebun Binatang Ragunan.

Berikut perbandingan kondisi sebelum dan sesudah renovasi Ragunan Zoo yang dapat menggambarkan perubahan signifikan yang sedang berlangsung:

Aspek
Sebelum Renovasi
Setelah Renovasi (perkiraan)
Kesejahteraan Satwa
Beberapa laporan menunjukkan kondisi kandang kurang ideal, sedikit ruang gerak, pemantauan kesehatan terbatas.
Perbaikan kandang sesuai standar internasional, ruang lebih luas dan aman, peningkatan pengawasan kesehatan rutin.
Fasilitas Pengunjung
Fasilitas terbatas, kurang edukatif, akses terbatas pada area tertentu.
Area edukasi interaktif, fasilitas nyaman dan aman, jalur pengunjung yang lebih terorganisir.
Kebersihan dan Pengelolaan Lingkungan
Beberapa titik dianggap kurang bersih dan tidak ramah satwa.
Peningkatan sistem pengelolaan sampah dan kebersihan, lingkungan alami yang ditingkatkan.
Transparansi dan Pelaporan Publik
Terbatas, minim laporan berkala.
Pembaharuan sistem komunikasi dan pelaporan berkala, keterlibatan komunitas konservasi.
Baca Juga:  Pemerintah Tangani Biaya Pengobatan Korban Ambruk Ponpes Sidoarjo

Pelaksanaan renovasi ini tentu menjadi langkah strategis Ragunan Zoo dalam membangun kembali reputasi dan memberikan contoh nyata konservasi di tengah tantangan urbanisasi Jakarta. Meski demikian, polemik soal video “Harimau Kurus” dan sikap Pramono Curiga menggarisbawahi pentingnya kesinambungan komunikasi dan kerja sama antara pengelola, aktivis, dan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama: kesejahteraan satwa dan edukasi konservasi yang berkelanjutan.

Ke depan, pemantauan kondisi satwa dan fasilitas di Ragunan harus terus dilakukan secara transparan, dengan peran aktif dari komunitas konservasi serta dukungan media yang objektif. Perbaikan fasilitas saja belum cukup tanpa penguatan kepercayaan publik dan keterlibatan semua pihak dalam melestarikan hewan langka yang menjadi aset bangsa.

Dengan demikian, kontroversi yang muncul dari video viral dan sikap kritis Pramono Curiga membuka dialog penting terkait bagaimana konservasi dan komunikasi publik dalam pengelolaan kebun binatang dikembangkan. Ragunan Zoo sebagai simbol konservasi utama di Jakarta dituntut untuk terus berinovasi dan transparan, sementara masyarakat dan aktivis harus memberikan ruang bagi perubahan positif berdasar fakta dan bukti nyata, bukan hanya viralitas kontroversi lama.

Tentang Arief Pratama Santoso

Arief Pratama Santoso adalah seorang Tech Journalist dengan fokus pada tren teknologi dalam industri kuliner di Indonesia. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia (2012), Arief telah berkecimpung selama 10 tahun dalam jurnalistik digital, memulai kariernya sebagai reporter teknologi di media nasional ternama. Selama lebih dari satu dekade, Arief telah menulis ratusan artikel yang membahas inovasi kuliner berbasis teknologi, seperti aplikasi pemesanan makanan, teknologi dapur pintar, d

Periksa Juga

Bayi 9 Bulan Probolinggo Terlantar di RS Malaysia, Ini Kronologinya

Bayi perempuan 9 bulan asal Probolinggo dirawat intensif di RS Johor Malaysia. Pemerintah dan KJRI bantu pulangkan, pastikan perlindungan dan pendampi