BahasBerita.com – Banyak pengguna di Amerika Serikat mulai meninggalkan TikTok dan beralih ke aplikasi video pendek alternatif seperti UpScrolled dan Skylight, menyusul diberlakukannya larangan federal terhadap TikTok pada awal tahun ini. UpScrolled kini berhasil menembus peringkat 10 aplikasi gratis teratas di Apple App Store AS, sementara Skylight mencatat lonjakan unduhan hingga 991 persen. Pergeseran ini dipicu oleh kekhawatiran atas sensor konten dan isu keamanan data yang terus membayangi TikTok di pasar AS.
Larangan yang diberlakukan pemerintah AS menandai babak baru dalam ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing. TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan asal China, ByteDance, menghadapi tekanan keras karena dianggap berpotensi mengancam keamanan nasional melalui pengelolaan data pengguna. Sebagai respons, kepemilikan TikTok di AS dialihkan ke investor lokal termasuk Oracle dan Larry Ellison, namun larangan federal tetap diberlakukan untuk membatasi akses pengguna di berbagai platform pemerintah dan sektor swasta.
Kebijakan ini memicu kontroversi, terutama terkait sensor konten yang semakin ketat di TikTok. Pengguna melaporkan adanya pembatasan fitur live streaming dan penghapusan konten yang dianggap melanggar aturan, seperti konten perjudian dan penipuan, yang secara signifikan meningkat sepanjang tahun ini. Data resmi menunjukkan TikTok telah menghapus ribuan konten dengan alasan keamanan dan kepatuhan, namun banyak pengguna merasa pembatasan ini justru merugikan kebebasan berekspresi dan kreativitas. “Setelah kembali aktif di AS, saya merasa TikTok semakin dibatasi dan tidak serileks sebelumnya,” kata seorang kreator konten yang enggan disebutkan namanya.
Lonjakan pengguna yang meninggalkan TikTok mendorong pertumbuhan pesat aplikasi alternatif. UpScrolled, aplikasi video pendek yang menonjolkan kebebasan tanpa sensor ketat, mengalami peningkatan unduhan hingga 10 kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Skylight bahkan mencatat pertumbuhan 991 persen, sedangkan Rednote naik 53 persen. Namun, pertumbuhan ini bukan tanpa tantangan. UpScrolled sempat mengalami gangguan server akibat lonjakan pengguna baru yang tiba-tiba, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat AS mencari platform pengganti yang lebih terbuka.
Reaksi pengguna terhadap perubahan ini beragam. Sebagian besar merasa kecewa dengan pembatasan konten di TikTok yang dianggap semakin ketat, sehingga mencari alternatif yang memberikan ruang lebih luas untuk ekspresi. Namun, ada ironi yang muncul karena beberapa pengguna AS kini mulai menggunakan aplikasi asal China lain seperti Xiaohongshu, meski larangan terhadap TikTok tetap berlaku. Hal ini menimbulkan perdebatan mengenai efektivitas kebijakan pemerintah AS dalam mengendalikan aplikasi asing dan dampaknya terhadap tren media sosial di negara tersebut.
Pemerintah AS melalui Komisi I DPR RI dan Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia juga mengamati perkembangan ini. Menkominfo Meutya Hafid menyatakan bahwa kebijakan regulasi harus seimbang antara menjaga keamanan data dan memberikan ruang inovasi bagi kreator konten. Sementara itu, Presiden Joe Biden menegaskan bahwa kebijakan larangan bertujuan melindungi kedaulatan data dan mencegah potensi penyalahgunaan informasi pribadi warga AS.
Aplikasi | Persentase Kenaikan Unduhan | Peringkat di Apple App Store AS | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|
UpScrolled | 10x lipat | Top 10 Gratis | Gangguan server akibat lonjakan pengguna |
Skylight | 991% | Top 50 Gratis | Fokus pada video pendek bebas sensor |
Rednote | 53% | Top 100 Gratis | Alternatif video pendek dengan fitur komunitas |
UpScrolled dan Skylight menawarkan fitur yang lebih transparan dan minim sensor dibandingkan TikTok yang kini menjalankan kebijakan pengawasan konten ketat. Pengguna merasa lebih leluasa dalam membuat dan membagikan konten, terutama dalam fitur live streaming yang sempat dibatasi. Meski demikian, pihak pengembang aplikasi alternatif juga dihadapkan pada tantangan menjaga keamanan data dan mengelola pertumbuhan pengguna secara berkelanjutan.
Kebijakan larangan TikTok diprediksi akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, seiring upaya ByteDance mencari solusi agar tetap bisa beroperasi di pasar AS tanpa mengorbankan kepercayaan pemerintah. Regulator juga tengah mempertimbangkan regulasi baru yang lebih ketat terkait aplikasi asing, termasuk kewajiban transparansi data dan audit keamanan secara berkala. Hal ini akan berdampak signifikan pada industri hiburan digital dan kreator konten di AS, yang harus menyesuaikan strategi distribusi dan monetisasi konten mereka.
Dampak jangka panjang dari larangan ini berpotensi mengubah lanskap media sosial di AS secara fundamental. Kreator konten harus memilih platform yang tidak hanya populer, tetapi juga aman dan bebas dari sensor berlebihan. Sementara itu, pemerintah dan pelaku industri teknologi harus mencari titik keseimbangan antara keamanan nasional dan kebebasan digital yang menjadi kunci inovasi dan kreativitas di era transformasi digital.
Dengan dinamika yang terus berkembang, pengguna dan kreator konten di AS disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan dan platform alternatif yang muncul. UpScrolled dan Skylight terlihat menjadi opsi utama saat ini, namun keberlanjutan dan kualitas pengalaman pengguna akan menjadi faktor penentu dalam persaingan media sosial ke depan. Pemerintah, di sisi lain, harus memastikan regulasi yang adil dan transparan agar tidak menghambat pertumbuhan ekosistem digital nasional maupun internasional.
BahasBerita BahasBerita Informasi Terbaru Seputar Internet
