Meta tengah digugat di AS atas tuduhan melanggar privasi pengguna WhatsApp dengan membaca isi chat meski klaim enkripsi end-to-end. Kasus ini soroti k

Meta Digugat atas Pelanggaran Privasi WhatsApp dan Bacakan Chat Pengguna

BahasBerita.com – Meta, perusahaan induk WhatsApp, saat ini tengah menghadapi gugatan hukum di Pengadilan Distrik AS San Francisco yang menuduh mereka melanggar privasi pengguna dengan kemampuan membaca isi chat pribadi. Tuduhan ini muncul meskipun WhatsApp secara konsisten mengklaim telah menerapkan enkripsi end-to-end sebagai standar perlindungan pesan. Gugatan ini semakin menguat setelah berbagai laporan mengungkap adanya bug keamanan serius dan spyware yang menargetkan pengguna WhatsApp, terutama yang menggunakan perangkat Apple. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran luas tentang keamanan data dan privasi pengguna aplikasi pesan instan yang paling populer di dunia.

WhatsApp selama ini dikenal dengan fitur enkripsi end-to-end yang menjamin pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerimanya. Namun, kelompok penggugat menyatakan bahwa Meta tidak sepenuhnya menjalankan prinsip ini. Mereka menuding perusahaan menyimpan, mengakses, dan menganalisis pesan pengguna tanpa izin, yang bertentangan dengan klaim keamanan platform tersebut. Gugatan ini juga mengacu pada kejadian terdahulu, termasuk serangan spyware oleh NSO Group, yang memanfaatkan bug zero-click untuk menginfeksi perangkat pengguna tanpa interaksi langsung. Bug semacam ini memungkinkan peretas mengakses data pribadi tanpa diketahui korban.

Sejarah permasalahan keamanan WhatsApp juga mencakup denda dan gugatan di berbagai negara terkait pelanggaran privasi data digital. Amnesty International dan Asosiasi Media Spanyol (AMI) menjadi salah satu pihak yang menyoroti risiko keamanan tersebut, terutama bagi jurnalis dan aktivis yang mengandalkan WhatsApp untuk komunikasi sensitif. Komisi Perlindungan Data Uni Eropa juga terus mengawasi ketat praktik perlindungan data perusahaan teknologi, termasuk Meta, dengan regulasi terbaru seperti Digital Services Act (DSA) yang menuntut transparansi penggunaan data dan pencegahan pelanggaran privasi.

Meta menanggapi gugatan ini dengan menegaskan komitmen kuat terhadap keamanan dan privasi pengguna. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka terus memperbarui fitur keamanan WhatsApp demi melindungi percakapan pengguna dari ancaman eksternal. Di antara pembaruan terbaru adalah fitur penguncian chat yang memungkinkan pengguna menambah lapisan proteksi dengan sidik jari atau Face ID, serta perlindungan otomatis terhadap media yang diterima agar tidak mudah disalahgunakan. Meta juga memperketat proses pemblokiran akun-akun yang diduga melakukan penipuan atau penyalahgunaan data.

Baca Juga:  Facebook Belum Hentikan Tombol Like & Komentar Situs Eksternal

Dalam pernyataan resmi, juru bicara Meta menyebutkan, “Kami berkomitmen penuh terhadap prinsip enkripsi end-to-end yang menjaga privasi setiap pesan di WhatsApp. Tidak ada pihak, termasuk Meta, yang dapat mengakses isi pesan pribadi pengguna.” Namun, perusahaan juga mengakui perlunya beradaptasi dengan regulasi global, termasuk persyaratan DSA Uni Eropa yang akan mulai diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang. Meta berjanji akan meningkatkan transparansi dan kontrol pengguna atas data mereka, sekaligus melindungi platform dari serangan spyware dan bug keamanan.

Gugatan hukum ini memiliki dampak signifikan terhadap kepercayaan pengguna WhatsApp secara global. Isu inti terkait klaim enkripsi end-to-end yang selama ini menjadi jualan utama aplikasi pesan instan ini berpotensi mengguncang persepsi publik tentang keamanan komunikasi digital. Jika pengadilan memutuskan Meta bersalah, perusahaan tidak hanya menghadapi denda finansial besar tetapi juga tekanan untuk merevisi kebijakan privasi secara menyeluruh. Hal ini dapat memicu reformasi besar dalam industri teknologi terkait penggunaan dan perlindungan data pribadi, khususnya dalam konteks aplikasi berbasis AI dan pesan instan.

Dampak jangka menengah juga mencakup pengawasan lebih ketat dari regulator di berbagai negara, yang semakin waspada terhadap potensi penyalahgunaan data oleh perusahaan teknologi raksasa. Pengguna diimbau untuk memanfaatkan fitur keamanan terbaru yang disediakan WhatsApp, seperti penguncian chat dan verifikasi dua langkah, guna melindungi percakapan yang bersifat pribadi dan sensitif. Selain itu, masyarakat diharapkan lebih kritis dan waspada terhadap potensi risiko spyware dan serangan digital, terutama di era di mana malware semakin canggih dan sulit terdeteksi.

Proses hukum terhadap Meta ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, dengan kemungkinan adanya persidangan yang menghadirkan bukti dan saksi ahli dari bidang keamanan siber dan perlindungan data digital. Meta bakal diminta memberikan klarifikasi mendalam mengenai bagaimana mereka mengelola data pengguna dan bagaimana enkripsi end-to-end diimplementasikan secara teknis. Sementara itu, pengadilan dan regulator akan terus memantau perkembangan fitur keamanan WhatsApp serta langkah-langkah perusahaan dalam memitigasi risiko keamanan.

Baca Juga:  Fitur Ulasan AI Play Store Android Terbaru 2025 Terpercaya

Isu ini juga membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai perlindungan data pribadi di era digital, khususnya terkait regulasi yang mengatur penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam aplikasi pesan. Kebijakan Meta yang melarang penggunaan data chat untuk pengembangan AI menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan oleh publik dan pengawas teknologi. Situasi ini mencerminkan tantangan kompleks antara inovasi teknologi, privasi pengguna, dan kepatuhan hukum yang harus dijalankan oleh perusahaan teknologi global.

Aspek Keamanan WhatsApp
Klaim Meta
Tuduhan Gugatan
Enkripsi End-to-End
Pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima.
Meta menyimpan dan mengakses pesan tanpa izin.
Fitur Penguncian Chat
Melindungi chat dengan biometrik (sidik jari/Face ID).
Kurangnya transparansi dalam implementasi fitur.
Perlindungan Media Otomatis
Mencegah penyalahgunaan file media yang diterima.
Potensi celah yang bisa dimanfaatkan spyware.
Bug Zero-Click
Meta berupaya memperbaiki dan menambal bug keamanan.
Bug memungkinkan peretasan tanpa interaksi pengguna.
Penggunaan Data untuk AI
Meta melarang penggunaan data chat untuk AI.
Ketidakjelasan pengawasan dan audit penggunaan data.

Tabel di atas merangkum perbedaan klaim keamanan WhatsApp oleh Meta dengan tuduhan yang diajukan dalam gugatan hukum. Perbedaan ini menjadi inti dari perselisihan hukum dan kepercayaan publik terhadap aplikasi pesan instan tersebut.

Ke depan, perhatian global akan tertuju pada bagaimana Meta menjalankan komitmennya untuk memperkuat keamanan WhatsApp sambil mematuhi regulasi perlindungan data yang semakin ketat. Bagi pengguna, peningkatan kesadaran dan pemanfaatan fitur keamanan adalah langkah penting untuk menjaga privasi dalam komunikasi digital. Sementara itu, proses hukum yang sedang berjalan akan menjadi indikator penting bagi masa depan perlindungan data pribadi di platform pesan instan dan teknologi digital secara lebih luas.

Tentang Raden Wicaksono Putra

Raden Wicaksono Putra adalah seorang News Correspondent berpengalaman dengan fokus khusus pada bidang artificial intelligence (AI). Lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia pada tahun 2012, Raden mengawali kariernya di dunia jurnalistik dengan liputan teknologi sejak 2013. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, ia telah meliput perkembangan AI, termasuk inovasi machine learning, natural language processing, dan robotika di berbagai konferensi internasional. Raden juga dikenal melalui b

Periksa Juga

Durasi Hari Bumi Bisa Panjang hingga 25 Jam: Fakta & Proyeksi

Durasi Hari Bumi Bisa Panjang hingga 25 Jam: Fakta & Proyeksi

Pelajari perubahan durasi hari Bumi, sebab gravitasi Bulan, dan proyeksi hari 25 jam. Penjelasan ilmiah lengkap, dampak teknologi & standar waktu masa