BahasBerita.com – Banjir dan tanah longsor hebat yang terjadi di Sri Lanka akibat Siklon Ditwah telah menewaskan sebanyak 618 orang, menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di negara itu. Selain korban meninggal, terdapat sekitar 209 hingga 214 orang masih hilang, sementara jumlah pengungsi yang sempat mencapai puncaknya 225.000 jiwa kini berkurang menjadi sekitar 100.000 warga yang tersebar di wilayah terdampak. Data ini dirilis oleh Pusat Penanggulangan Bencana Sri Lanka (DMC) yang terus memantau perkembangan situasi dengan dukungan Angkatan Darat, Laut dan Udara Sri Lanka dan lembaga-lembaga bantuan internasional.
Siklon Ditwah yang membawa curah hujan ekstrem mencapai lebih dari 150 mm dalam 24 jam memicu banjir dan longsor luas di beberapa wilayah, terutama di ibu kota Kolombo serta perkebunan teh di kawasan tengah negara. Dampak kerusakan yang serius tercatat pada lebih dari 75.000 rumah, dengan hampir 5.000 di antaranya hancur total. Saat ini, tantangan besar masih terjadi pada akses dan kondisi wilayah yang sebagian besar terisolasi akibat putusnya pasokan listrik, air bersih, serta gangguan koneksi internet. Pencarian korban hilang terus dilakukan, namun kesulitan medan dan risiko keselamatan menjadi kendala utama tim penyelamat.
Dalam upaya meringankan dampak bencana, pemerintah Sri Lanka telah mengalokasikan dana bantuan berupa paket tunai senilai sekitar Rp 541 juta per keluarga yang rumahnya hilang. Pendanaan rekonstruksi juga menjadi prioritas nasional, dengan permintaan bantuan internasional mencapai angka sekitar 7 miliar USD. Harapan pemerintah mengarah pada sejumlah lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), yang siap memberikan pinjaman talangan untuk mendukung pemulihan sosial ekonomi negara. Presiden Anura Kumara Dissanayake mengimbau masyarakat tetap waspada dan mendukung upaya evakuasi dan rekonstruksi sambil mengakui tantangan besar yang dihadapi.
Peringatan terbaru dari Organisasi Penelitian Bangunan Nasional Sri Lanka (NBRO) menegaskan potensi terjadinya longsor susulan di area perbukitan jika hujan terus mengguyur wilayah tersebut. Hal ini mendorong pemerintah dan DMC memperketat peringatan dini serta mendorong pengungsian cepat di daerah berisiko tinggi. Kebijakan mitigasi bencana menjadi sorotan utama, mengingat bencana tahun ini merupakan yang paling parah sejak 2023. Kejadian ini menjadi pembelajaran penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan sistem tata kelola risiko bencana, terutama menghadapi perubahan pola cuaca ekstrem yang semakin intensif.
Dalam konteks sosial ekonomi, bencana ini menimbulkan dampak jangka panjang yang serius. Kerusakan infrastruktur yang meluas, hilangnya rumah dan mata pencaharian, serta gangguan layanan dasar seperti listrik dan air bersih mengancam kehidupan sekitar dua juta jiwa terdampak. Sektor perkebunan teh, salah satu pilar ekonomi regional, juga mengalami kerugian besar karena tanah longsor dan banjir yang merusak lahan. Pemerintah dan organisasi internasional terus bekerja sama untuk menyusun skema pemulihan yang tidak hanya fokus pada rekonstruksi fisik tetapi juga pemulihan sosial, ekonomi, dan mental masyarakat terdampak.
Berikut tabel ringkasan kerusakan dan dampak bencana Siklon Ditwah di Sri Lanka:
Aspek | Data | Keterangan |
|---|---|---|
Korban Tewas | 618 orang | Data terbaru dari DMC dan laporan media internasional |
Orang Hilang | 209-214 orang | Masih dalam pencarian dan dikhawatirkan meninggal dunia |
Pengungsi | ~100.000 jiwa | Turun dari puncak 225.000 jiwa pasca-bencana |
Rumah Rusak | 75.000+ unit | Mencakup rusak berat dan ringan, hampir 5.000 rumah hancur total |
Jumlah Terkena Dampak | ~2 juta jiwa | Mengalami berbagai bentuk kerugian dan gangguan layanan |
Permintaan Dana Rekonstruksi | ~7 miliar USD | Diajukan pemerintah untuk bantuan internasional dan pemulihan besar-besaran |
Paket Bantuan Per Korban Rumah Hilang | Rp 541 juta | Disiapkan pemerintah sebagai kompensasi awal |
Secara teknis, penanganan darurat mengandalkan keterlibatan Angkatan Darat, Laut, Udara Sri Lanka didukung oleh ratusan relawan serta organisasi internasional. Pengoperasian alat berat dan pemanfaatan teknologi komunikasi darurat tengah dioptimalkan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi korban. Namun, sulitnya medan dan cuaca yang belum sepenuhnya stabil menambah tingkat kendala operasional. Pemerintah menegaskan perlunya dukungan berkelanjutan dari lembaga donor, organisasi kemanusiaan, serta negara sahabat agar proses pemulihan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Peringatan cuaca dari NBRO dan pelayanan DMC terus di-update untuk mengantisipasi hujan lebat lanjutan yang bisa memicu longsor susulan. Warga di wilayah rentan seperti perbukitan dan sekitar sungai diarahkan pada jalur evakuasi cepat. Koordinasi dengan organisasi media juga berperan penting dalam penyebaran informasi kritis demi keselamatan publik. Presiden Dissanayake menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak hanya tugas pemerintah tapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dan kerjasama internasional.
Dalam perspektif regional, bencana banjir dan longsor di Sri Lanka ini menjadi peringatan bagi negara-negara Asia Selatan tentang dampak nyata siklon tropis dan variabilitas iklim ekstrim yang semakin meningkat akibat perubahan iklim global. Respon cepat, pembiayaan pemulihan besar-besaran, serta pembangunan kembali yang mengutamakan ketahanan menjadi agenda utama dalam mengurangi risiko bencana masa depan. Sri Lanka kini berada pada titik kritis untuk menyusun strategi adaptasi dan mitigasi bencana yang holistik serta membangun infrastruktur yang lebih tangguh terhadap cuaca ekstrem.
Kesimpulannya, bencana Siklon Ditwah di Sri Lanka telah menimbulkan tragedi kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur yang luas dengan korban jiwa mencapai ratusan dan pengungsian massal. Pemerintah telah mengerahkan upaya besar dalam evakuasi, pencarian korban, serta pengalokasian dana untuk pemulihan. Bantuan internasional dan pinjaman IMF menjadi kunci dalam rangka mempercepat rekonstruksi dan memperkuat sistem mitigasi. Pengalaman ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan bencana yang terpadu dan peningkatan kapasitas respons menghadapi cuaca ekstrem di masa depan.
BahasBerita BahasBerita Informasi Terbaru Seputar Internet
