Kepala BPBD Belu Ditemukan Meninggal di Jurang, Polisi Selidiki

Kepala BPBD Belu Ditemukan Meninggal di Jurang, Polisi Selidiki

BahasBerita.com – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belu, Fransiskus Xaverius Asten, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di sebuah jurang wilayah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban sebelumnya diketahui meninggalkan rumah untuk membeli rokok, namun hingga dua hari kemudian tidak kembali. Penyelidikan intensif oleh kepolisian setempat serta rencana autopsi sedang dilakukan guna mengungkap penyebab pasti kematian Fransiskus. Kasus ini mendapatkan perhatian serius dari aparat dan masyarakat setempat, mengingat posisi penting almarhum dalam penanganan bencana di daerah rawan seperti Belu.

Insiden ini berawal saat Fransiskus tiba-tiba pamit dari rumah sekitar pukul 18.55 Wita dengan alasan hendak membeli rokok. Menurut keterangan keluarga korban, sejak saat itu tidak ada kabar atau informasi lebih lanjut dari Fransiskus, sehingga menimbulkan kekhawatiran. Keluarga kemudian melaporkan hilangnya kepala BPBD tersebut ke pihak berwajib. Pencarian dilakukan oleh tim gabungan, termasuk personel Polres Belu dan BPBD, hingga akhirnya jasad Fransiskus ditemukan di dasar jurang yang cukup dalam di wilayah perbukitan Belu. Penemuan ini menjadi titik penentu setelah pencarian intensif selama beberapa hari.

Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Rio Penggabean, memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan penyelidikan. “Kami tengah melakukan proses identifikasi dan pemeriksaan untuk memastikan penyebab kematian almarhum. Lokasi penemuan berada di sebuah jurang terpencil yang memerlukan kemampuan evakuasi khusus,” ujarnya. AKP Rio menambahkan bahwa proses otopsi akan dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk mengungkap fakta-fakta terkait kematian secara medis. Pihak kepolisian juga masih mengumpulkan keterangan dari saksi maupun keluarga untuk melengkapi data penyelidikan. Hingga saat ini, belum ada indikasi kuat terkait motif lain selain kemungkinan kecelakaan, namun semua kemungkinan tetap dibuka untuk ditelusuri.

Baca Juga:  Ayah Tiri Ngaku Terkait Kresek Hitam Jasad Alvaro, Polisi Belum Konfirmasi

Fransiskus Xaverius Asten dikenal luas sebagai Kepala Pelaksana BPBD Belu yang aktif mengelola program mitigasi dan tanggap bencana di wilayah rawan seperti NTT. BPBD merupakan lembaga yang memiliki peran strategis dalam mengatur kesiapsiagaan dan penanganan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, serta kebakaran hutan yang menjadi ancaman rutin di daerah ini. Kabupaten Belu secara geografis memiliki topografi yang berbukit-bukit dan curam, dengan sejumlah jurang yang berbahaya. Kondisi ini menjadi faktor risiko tinggi bagi kecelakaan, terutama saat mobilitas warga di malam hari atau dalam kondisi tidak waspada.

Kematian mendadak Fransiskus menimbulkan keresahan khususnya di kalangan aparat BPBD dan komunitas lokal yang bergantung pada koordinasi penanggulangan bencana. Kepergian sosok kepala BPBD ini berpotensi mengganggu kelancaran operasional dan respons terhadap ancaman bencana yang selalu mengintai daerah Belu. Sementara itu, pemerintah daerah dan BPBD pusat diharapkan segera mengatur penunjukan pejabat pengganti agar aktivitas kritis tidak terganggu. Proses administratif dan evaluasi kepemimpinan pun perlu dilakukan secara cepat dan transparan demi menjaga efektifitas lembaga.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat dan media untuk menunggu hasil resmi dari pemeriksaan autopsi dan penyelidikan lanjutan. “Kami mengharapkan publik untuk tidak terpancing oleh spekulasi yang belum ada dasar faktualnya. Semua proses masih berlangsung, dan kami berkomitmen mengungkap penyebab kematian ini secara transparan,” tegas Kasat Reskrim AKP Rio Penggabean. Sementara itu, keluarga korban juga diimbau untuk memperoleh dukungan dan tetap bersabar menanti hasil penyelidikan yang objektif.

Kasus meninggalnya Kepala BPBD Belu ini menjadi perhatian penting dalam konteks keamanan dan keselamatan pejabat publik serta penanganan risiko di daerah rawan bencana. Kejadian ini mengingatkan perlunya protokol pengamanan dan prosedur pendukung guna melindungi aparat yang bertugas di medan berat seperti NTT. Penyidik dan lembaga terkait diharapkan dapat memberikan rekomendasi menyeluruh demi menghindari peristiwa serupa di masa depan.

Baca Juga:  Prabowo dan Menhut Ginting Perkuat Pemberantasan Tambang Ilegal
Aspek
Detail
Status/Tindakan
Identitas Korban
Fransiskus Xaverius Asten, Kepala BPBD Belu
Sudah ditemukan meninggal
Lokasi Penemuan
Jurang di wilayah perbukitan Kabupaten Belu, NTT
Evakuasi dan dokumentasi selesai
Kronologi Awal
Pamit beli rokok ± pukul 18.55 Wita, hilang selama 2 hari
Laporan hilang diterima dan pencarian dilakukan
Penyelidikan
Pemanggilan saksi, pengumpulan bukti, rencana autopsi
Masih berjalan
Dampak Lembaga
Potensi gangguan koordinasi penanggulangan bencana
Penggantian pejabat diproses

Berita kematian Kepala BPBD Belu ini masih menjadi fokus investigasi utama Polres Belu dan BPBD NTT. Dengan proses otopsi yang sedang berlangsung, publik diharapkan mendapatkan kejelasan faktual mengenai penyebab kematian. Peristiwa ini menggarisbawahi tantangan mitigasi bencana dan keselamatan personel di lapangan, sekaligus mendesak penguatan sistem proteksi pejabat publik di daerah rawan kecelakaan. Pemerintah daerah diharapkan meningkatkan koordinasi antar lembaga terkait dan menjaga kestabilan pelayanan publik yang krusial di tengah situasi sulit ini. Masyarakat diminta untuk mengikuti perkembangan informasi secara resmi dan terverifikasi.

Tentang Raden Aditya Pratama

Raden Aditya Pratama adalah editorial writer berpengalaman dengan fokus pada sektor renewable energy di Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2012 dan terus mengembangkan keahliannya dalam menulis dan analisis energi terbarukan. Selama lebih dari 10 tahun berkarir, Raden telah bekerja di beberapa media nasional terkemuka, menulis artikel mendalam tentang teknologi solar, biomassa, dan kebijakan energi hijau. Ia juga dikenal melalui sejumlah publikasi

Periksa Juga

Bayi 9 Bulan Probolinggo Terlantar di RS Malaysia, Ini Kronologinya

Bayi perempuan 9 bulan asal Probolinggo dirawat intensif di RS Johor Malaysia. Pemerintah dan KJRI bantu pulangkan, pastikan perlindungan dan pendampi