Gempa M 6,3 Simeulue Aceh: Update & Analisa Resmi BMKG

Gempa M 6,3 Simeulue Aceh: Update & Analisa Resmi BMKG

BahasBerita.com – Gempa berkekuatan magnitudo 6,3 mengguncang wilayah Sinabang di Kabupaten Simeulue, Aceh, dengan pusat gempa yang berada pada kedalaman 10 kilometer. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), getaran gempa ini dirasakan hingga ke Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan intensitas getaran skala II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI). BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, sehingga situasi dianggap aman oleh pihak berwenang.

Gempa terjadi di sekitar koordinat 6,70 derajat Lintang Utara dan 93,7 derajat Bujur Timur, tepatnya di wilayah Sinabang, Kabupaten Simeulue. Kedalaman gempa yang dangkal, hanya sekitar 10 km, menyebabkan getaran terasa cukup luas hingga ke kawasan sekitarnya seperti Kota Sabang dan Banda Aceh. Skala intensitas MMI II-III yang tercatat menunjukkan getaran ringan sampai sedang yang dirasakan oleh warga, seperti guncangan bangunan dan perabotan yang bergoyang namun tanpa menimbulkan kerusakan berarti.

BMKG melalui pernyataan resminya menguraikan bahwa gempa ini merupakan fenomena yang terkait dengan aktivitas sesar Aceh, salah satu sesar aktif utama di kawasan Sumatera bagian utara. “Magnitudo 6,3 dengan kedalaman dangkal merupakan indikasi signifikansi aktivitas seismik dari sesar Aceh,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG. Data dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikaji bersama BMKG menunjukkan bahwa sesar ini masih aktif dan memiliki potensi gempa susulan, terutama di wilayah Simeulue dan sekitarnya, yang perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pihak berwenang.

Dari sisi pengalaman di lapangan, warga di Banda Aceh dan Aceh Besar melaporkan getaran yang cukup terasa pada saat gempa terjadi. Seorang warga Banda Aceh menyatakan, “Rumah saya sedikit bergoyang dan peralatan di rak bergetar, tetapi tidak sampai jatuh atau pecah. Bau nyaring dari getaran itu cukup lama terasa.” Pengamatan ini sesuai dengan data intensitas gempa yang dirilis BMKG. Hingga laporan terakhir, belum ada laporan kerusakan infrastruktur signifikan maupun korban jiwa, menunjukkan bahwa sistem mitigasi dan kesiapsiagaan lokal cukup efektif dalam mengantisipasi gempa bumi semacam ini.

Baca Juga:  Gus Yahya Tegas Tidak Mundur Jadi Ketum PBNU hingga 2026

Seismolog dari UGM mengemukakan bahwa gempa dengan kedalaman dangkal seperti ini cenderung menimbulkan getaran yang lebih terasa daripada gempa dengan kedalaman lebih besar. Hal ini karena energi gempa dilepaskan dekat permukaan bumi, sehingga gelombang seismik langsung berdampak pada permukiman dan fasilitas umum. UGM bersama BMKG terus melakukan pemantauan intensif dan analisis seismologi untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan yang masih memiliki potensi terjadi, mengingat pola aktivitas sesar Aceh yang dinamis.

Aceh memiliki sejarah panjang dengan aktivitas gempa besar yang pernah meluluhlantakkan wilayahnya, termasuk gempa dan tsunami dahsyat tahun 2004 yang masih menjadi pelajaran penting dalam mitigasi bencana. Wilayah Aceh, khususnya Kabupaten Simeulue dan sekitarnya, berada di zona rawan gempa bumi dangkal akibat interaksi lempeng tektonik aktif dan sesar-sesar utama seperti sesar Aceh. Oleh sebab itu, peran BMKG dalam melakukan pemantauan gempa adalah krusial untuk memberikan informasi cepat dan akurat kepada masyarakat demi menjaga keamanan dan kesiapsiagaan.

Aspek
Detail
Keterangan
Magnitudo
6,3
Gempa kuat dengan potensi getaran luas
Lokasi Pusat Gempa
Sinabang, Kabupaten Simeulue
Koordinat 6,70 LU, 93,7 BT
Kedalaman
10 km
Gempa dangkal, getaran terasa kuat
Intensitas Gempa (MMI)
II – III
Getaran ringan hingga sedang dirasakan
Potensi Tsunami
Tidak ada
BMKG memastikan kondisi aman

BMKG menegaskan bahwa meski gempa ini tidak menimbulkan tsunami, kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan harus tetap dijaga. Koordinasi antara BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan instansi terkait di Aceh diperkirakan akan terus diintensifkan dalam waktu dekat. Kesiapsiagaan diajak untuk terus ditingkatkan melalui edukasi mitigasi bencana, latihan evakuasi, dan penguatan sistem peringatan dini agar risiko yang lebih besar dapat dicegah.

Baca Juga:  Tim SAR Temukan Mobil Mercy Ringsek di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

Secara keseluruhan, gempa magnitudo 6,3 ini menjadi sinyal penting mengenai aktivitas seismik di wilayah Aceh, khususnya di sekitar sesar Aceh. Untuk masyarakat, tekad menjalankan protokol keselamatan gempa sangat vital agar pengaruh negatif dari gempa bumi ini bisa diminimalisasi. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala BMKG, “Masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan menyiapkan langkah mitigasi pribadi serta keluarga untuk menghadapi kemungkinan gempa susulan.”

Pemantauan terus dilakukan dan informasi resmi akan diperbaharui jika ada perkembangan baru. Masyarakat disarankan untuk mendapatkan informasi hanya dari sumber terpercaya guna menghindari kepanikan atau informasi yang tidak akurat. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan edukasi mitigasi bencana tidak bisa diabaikan di wilayah rawan gempa seperti Aceh.

Tentang Raden Arya Pratama

Raden Arya Pratama adalah Financial Writer dengan fokus utama pada dinamika politik dan dampaknya terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Indonesia pada 2010 dan melanjutkan studi Magister Ekonomi Politik di Universitas Gadjah Mada hingga 2013. Dengan pengalaman lebih dari 11 tahun menulis dan menganalisis hubungan antara politik dan keuangan, Raden telah bekerja di sejumlah media nasional terkemuka serta lembaga riset ekonomi. Karyanya sering

Periksa Juga

Bayi 9 Bulan Probolinggo Terlantar di RS Malaysia, Ini Kronologinya

Bayi perempuan 9 bulan asal Probolinggo dirawat intensif di RS Johor Malaysia. Pemerintah dan KJRI bantu pulangkan, pastikan perlindungan dan pendampi