BahasBerita.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap data terbaru menunjukkan sekitar 50% dari populasi Ibu Kota Negara (IKN) adalah generasi muda, yakni Generasi Z dan Milenial. Temuan ini mengindikasikan dominasi kelompok usia produktif yang siap menjadi ujung tombak pembangunan dan inovasi di wilayah pusat pemerintahan baru Indonesia. Data tersebut menjadi rujukan utama dalam merancang kebijakan pembangunan IKN yang responsif terhadap dinamika demografi.
Proses pengumpulan data BPS dilakukan melalui survei kependudukan berbasis sensus dan registrasi kependudukan elektronik yang mencakup karakteristik usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Dari hasil analisis, sekitar 27% populasi di IKN masuk kategori Generasi Z (usia 10-25 tahun), sementara Generasi Milenial (usia 26-41 tahun) mencapai 23%. Proporsi signifikan ini menegaskan bahwa hampir separuh penduduk wilayah IKN masuk kelompok usia yang dikenal sebagai generasi digital dan inovator. Selain itu, komposisi demografis lainnya di wilayah ini menunjukkan tingkat urbanisasi tinggi dengan tingkat pendidikan menengah ke atas yang juga lebih dominan dibandingkan rata-rata nasional.
IKN sebagai ibu kota baru telah dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan sekaligus simbol modernisasi pembangunan nasional. Keberadaan Generasi Z dan Milenial yang cukup besar di wilayah ini dianggap strategis oleh pemerintah karena generasi ini cenderung adaptif terhadap perkembangan teknologi, inovasi, serta aktif dalam kegiatan ekonomi kreatif. Dibandingkan dengan komposisi demografi nasional yang masih didominasi kelompok usia produktif di Jawa dan Sumatera, IKN menawarkan ekosistem yang lebih muda dan dinamis sebagai modal utama pembangunan berkelanjutan. Hal ini dapat mendorong transformasi sosial dan ekonomi yang selaras dengan visi Indonesia Maju.
Kepala Bidang Statistik Kependudukan BPS dalam keterangannya menegaskan, “Data demografi IKN menunjukkan peluang besar untuk memaksimalkan potensi ekonomi dan sosial generasi muda. Ini menjadi dasar perencanaan pembangunan yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur pendidikan, dan lapangan kerja yang berorientasi pada inovasi teknologi.” Menurut pengamat demografi Institute for Population and Social Research, Dr. Putri Lestari, “Kehadiran proporsi Gen Z dan Milenial yang signifikan di IKN memberikan tantangan sekaligus peluang. Pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan sosial dan ekonomi mampu mengakomodasi kebutuhan partisipasi aktif generasi muda dalam proses pembangunan.”
Dampak langsung dari data ini terlihat pada prioritas penyesuaian kebijakan publik di IKN yang mulai mengintegrasikan aspek pelayanan publik digital, pendidikan vokasi berbasis teknologi, dan pengembangan wirausaha inovatif bagi generasi muda. Pemerintah juga memperhatikan kebutuhan infrastruktur sosial seperti hunian yang ramah milenial dan fasilitas transportasi yang mendukung mobilitas tinggi. Namun, tantangan yang muncul mencakup pengelolaan ketimpangan akses sumber daya dan penyiapan sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global. Langkah ke depan pemerintah berfokus pada kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi demografis ini sekaligus mengantisipasi risiko sosial ekonomi seperti pengangguran usia muda.
Kelompok Usia | Persentase Populasi di IKN | Karakteristik Utama | Perbandingan Nasional |
|---|---|---|---|
Generasi Z (10-25 tahun) | 27% | Adaptif teknologi, pelajar dan pekerja muda | 25% nasional |
Generasi Milenial (26-41 tahun) | 23% | Produktif, inovator ekonomi kreatif | 24% nasional |
Generasi X dan lainnya (>41 tahun) | 50% | Maturitas sosial, posisi pemimpin | 51% nasional |
Tabel di atas menampilkan proporsi distribusi usia di IKN dibandingkan dengan data nasional terbaru. Terlihat kecenderungan IKN memiliki demografi yang lebih muda dengan persentase Gen Z sedikit lebih tinggi dibanding nasional, sementara Milenial relatif seimbang.
Keberadaan populasi muda yang besar di IKN menegaskan pentingnya pengembangan kebijakan berbasis data agar strategi pembangunan tidak hanya mengutamakan aspek fisik, tetapi juga mencakup penguatan sumber daya manusia. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan investasi pada pendidikan, pelatihan keterampilan, dan akses teknologi digital guna memastikan generasi muda di IKN bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama pembangunan. Selanjutnya, keberlanjutan pembangunan IKN dapat terjaga jika pendekatan demografi ini diterjemahkan menjadi kebijakan inklusif yang mampu menjawab kebutuhan dan aspirasi masyarakat muda secara komprehensif.
Dengan data BPS yang valid dan terupdate sebagai panduan, pergeseran demografis di IKN menjadi acuan untuk menyesuaikan target pembangunan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan digital dan globalisasi di tahun-tahun mendatang. Hal ini membuka ruang bagi kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, sektor swasta hingga komunitas milenial dan Gen Z untuk bersinergi mewujudkan visi ibu kota yang modern, inklusif, dan berkelanjutan.
BahasBerita BahasBerita Informasi Terbaru Seputar Internet
