Yoon Suk Yeol resmi dicopot dari jabatannya sebagai Presiden Korea Selatan setelah Mahkamah Konstitusi menguatkan pemakzulannya pada tanggal 4 April 2025. Keputusan ini menjadi puncak dari serangkaian proses hukum yang dimulai sejak deklarasi darurat militer yang dilakukan oleh Yoon pada Desember tahun sebelumnya. Langkah tersebut memicu protes besar-besaran dari masyarakat dan politisi yang menganggap tindakan itu melanggar konstitusi. Dengan pemakzulan ini, Korea Selatan tengah bersiap menghadapi periode transisi dan pemilihan presiden baru dalam waktu 60 hari.
Deklarasi darurat militer oleh Yoon Suk Yeol pada Desember 2024 menjadi titik awal dari krisis politik ini. Langkah ini diambil di tengah situasi yang dianggap Yoon sebagai ancaman terhadap keamanan nasional, namun justru memunculkan gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Seiring dengan meningkatnya tekanan publik, Parlemen Korea Selatan bergerak cepat dengan memulai proses pemakzulan terhadap Yoon.
Pada bulan April 2025, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan akhirnya menguatkan pemakzulan yang sebelumnya telah disetujui oleh Parlemen. Pengumuman ini datang setelah serangkaian sidang yang menyoroti legalitas dari deklarasi darurat militer yang dianggap inkonstitusional. “Keputusan ini adalah kemenangan bagi demokrasi dan konstitusi kita,” ungkap salah satu anggota parlemen yang terlibat dalam proses pemakzulan.
Pemakzulan ini menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas politik di Korea Selatan. Ketidakpastian politik sementara ini mengharuskan pembentukan pemerintahan sementara yang akan mengelola tugas pemerintahan hingga presiden baru terpilih. Partai politik di Korea Selatan kini berlomba-lomba mempersiapkan kandidat mereka untuk pemilihan yang akan datang, sementara masyarakat berharap untuk masa depan yang lebih stabil dan demokratis.
Kemelut politik ini juga memicu diskusi mengenai potensi perubahan dalam kebijakan domestik dan luar negeri Korea Selatan. Beberapa analisis menyebutkan bahwa presiden baru mungkin akan menghadapi tantangan dalam memperbaiki hubungan diplomatik yang sempat terganggu akibat langkah kontroversial Yoon. Selain itu, kebijakan ekonomi dan sosial di dalam negeri juga mungkin akan mengalami penyesuaian sesuai dengan pandangan presiden yang baru terpilih.
Di tengah situasi ini, persiapan untuk pemilihan presiden baru sedang berlangsung dengan cepat. Mahkamah Konstitusi dan komisi pemilihan umum bekerja sama untuk memastikan bahwa proses pemilihan berjalan lancar dan adil. Pemerintah sementara diharapkan dapat menjaga stabilitas dan menjalankan pemerintahan dengan baik sampai presiden baru resmi menjabat. Sebuah periode transisi yang penting bagi Korea Selatan, yang akan menentukan arah masa depan negara tersebut di tengah tantangan politik yang kompleks.