BahasBerita.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Digital (Wamenkomdigi) baru-baru ini menekankan pentingnya literasi kecerdasan buatan (AI) bagi anak-anak Indonesia sebagai langkah preventif guna menghindari fenomena brain rot. Brain rot merujuk pada penurunan kualitas kognitif yang dialami anak-anak akibat paparan teknologi digital yang tidak terarah dan minim pengawasan. Penegasan ini disampaikan dalam kerangka kebijakan strategis pemerintah yang fokus pada pembekalan kemampuan literasi AI agar anak-anak mampu menghadapi teknologi secara kritis dan adaptif di tengah pesatnya perkembangan era digital.
Fenomena brain rot sendiri diartikan sebagai kondisi di mana fungsi otak anak mengalami kemunduran dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kreativitas karena terlalu lama terpapar konten digital tanpa pemahaman yang tepat. Paparan kecerdasan buatan yang semakin meluas, baik lewat aplikasi pembelajaran maupun hiburan digital, jika tidak disertai pendampingan, bisa menyebabkan gangguan perkembangan kognitif. Menurut studi yang dirilis oleh Lembaga Riset Digital Anak (LRDA) tahun ini, 65% anak usia sekolah dasar mengalami penurunan kemampuan fokus dan daya ingat akibat penggunaan AI yang tidak maksimal, sementara 48% dari mereka rentan mengalami kecanduan digital yang memperbesar risiko brain rot.
Literasi kecerdasan buatan merujuk pada kemampuan individu, khususnya anak-anak, untuk memahami, menilai, dan menggunakan teknologi AI secara efektif dan etis. Dengan literasi AI, anak-anak tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi yang benar, serta menggunakan alat digital dengan bijak. “Literasi AI adalah sebuah keterampilan wajib di era digital ini. Anak-anak yang melek AI akan lebih siap menghadapi tantangan teknologi sekaligus menjaga kesehatan mental dan perkembangan otak mereka,” tegas Wamenkomdigi dalam salah satu forum edukasi teknologi digital anak.
Sebagai contoh penerapan literasi AI dalam kehidupan sehari-hari, anak dapat diarahkan untuk memahami bagaimana asisten virtual bekerja, membedakan antara interaksi manusia dan mesin, serta mengenali potensi risiko keamanan pribadi di dunia maya. Selain itu, pengenalan konsep algoritma yang sederhana dalam bentuk permainan edukatif dapat membentuk pola pikir kritis sejak dini. Hal ini sekaligus mendukung pembentukan karakter anak yang adaptif terhadap teknologi cerdas dan cepat berubah.
Dalam mewujudkan program literasi AI, Wamenkomdigi menginisiasi beberapa langkah strategis, antara lain integrasi materi AI ke kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pelatihan bagi guru dan orang tua dalam pengasuhan digital. Kerja sama dengan berbagai pihak, seperti sekolah, lembaga pendidikan, hingga industri teknologi, menjadi kunci sukses penerapan literasi ini. Program “Digital Smart Kids” yang telah dijalankan sejak awal tahun ini merupakan contoh kolaborasi antara Kementerian Kominfo, Kementerian Pendidikan, dan pelaku industri teknologi, menyediakan modul edukasi berbasis AI yang ramah anak. Dalam kesempatan tersebut, Wamenkomdigi juga menekankan pentingnya peran aktif orang tua dan guru sebagai pengawas utama pemanfaatan teknologi digital di lingkungan anak.
Era digital saat ini menghadirkan tantangan besar bagi tumbuh kembang anak, terutama dengan percepatan adopsi AI dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Teknologi ini tidak hanya mengubah cara belajar dan bermain anak, tetapi juga berpotensi menggeser pola pikir dan interaksi sosial mereka. Jika tidak diiringi dengan literasi digital dan pengasuhan yang tepat, risiko kecanduan dan penurunan kemampuan kognitif akan meningkat. Pemerintah melalui Kementerian Kominfo melihat urgensi ini sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia berkualitas yang siap menghadapi revolusi industri 4.0 dan 5.0.
Kegagalan membekali anak-anak dengan literasi AI berpotensi menyebabkan kesenjangan digital yang lebih dalam di masa depan, dengan generasi muda yang kurang mampu mengantisipasi perubahan teknologi secara sehat dan produktif. Wamenkomdigi mengingatkan bahwa investasi dalam literasi digital dan keterampilan AI berkontribusi signifikan terhadap pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang tangguh dan inovatif.
Aspek | Situasi Saat Ini | Target Program Literasi AI |
|---|---|---|
Paparan Teknologi pada Anak | 65% anak mengalami penurunan fokus akibat penggunaan AI tanpa pengawasan | Penurunan paparan negatif hingga 30% melalui edukasi dan kontrol aktif |
Kemampuan Critical Thinking | Kurang dari 40% anak mampu memilah informasi dengan benar | Minimal 70% anak terlatih melalui kurikulum literasi AI |
Keterlibatan Orang Tua dan Guru | Partisipasi pengasuhan digital masih rendah | 70% sekolah dan keluarga terlibat aktif dalam pengawasan teknologi |
Tabel di atas merangkum situasi terkini dan target yang hendak dicapai dalam program literasi AI anak-anak yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Digital. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga sangat diperlukan agar dampak positif AI bagi perkembangan kognitif anak dapat maksimal.
Kedepannya, literasi kecerdasan buatan akan menjadi fondasi penting dalam model pendidikan nasional yang adaptif terhadap transformasi teknologi global. Wamenkomdigi memprediksi bahwa peningkatan kemampuan literasi digital dan AI pada anak-anak tidak hanya mencegah fenomena brain rot, tetapi juga membuka peluang bagi munculnya generasi muda kreatif dan inovatif yang mampu bersaing di kancah internasional. Masyarakat dan stakeholder diharapkan terus mendukung inisiatif ini agar dampak positif teknologi digital dapat dirasakan merata tanpa mengorbankan kesehatan mental dan perkembangan kognitif anak-anak Indonesia di era serba digital.
BahasBerita BahasBerita Informasi Terbaru Seputar Internet
